Example 728x250

Rancangan Rhika Purwaningsih Darwin Antar Muna Barat Sabet Juara 1 Fashion Show Fest BKMT Sultra

Muna Barat sukses membawa pulang piala Juara 1 ajang fashion show fest BKMT Sultra. (Publik Reaction/Putri Wulandari)

KENDARI, PUBLIKREACTION.ID – Dua motif tenunan rancangan Ketua BKMT, Rhika Purwaningsih Darwin membawa nama Muna Barat meraih juara 1 umum di ajang Fashion Show Fest BKMT Sultra.

Ini buka sekadar kain tetapi cerita, dua cerita yang ditenun dalam sehelai karya ‘Kamomo Bhe Bungka dan DHALADHA (Jelajah)’.

Di Muna Barat, inspirasi tidak datang dari jauh. Ia tumbuh di halaman rumah, mekar sepanjang tahun. Ia berdiri diam di setiap sudut rumah yakni dinding. Dari dua hal paling dekat dengan hidup itulah, penenun Muna Barat menulis cerita baru.

Cerita pertama Komomo Bhe Bungka (kuncup bunga dan kepiting), bunga di Muna Barat tak kenal musim. Aromanya menyusup ke lorong desa, menembus kebun, menari di pesisir. Dari wangi yang tak pernah putus itulah kuncup lahir di kain. Bersanding dengan kepiting, fauna pesisir yang sabar. Keduanya bicara tentang hal yang sama yakni potensi, harapan, kemurnian, dan awal dari sebuah pertumbuhan.

“Kuncup mengajarkan kerendahan hati, ia belum mekar, sedang siap menampilkan keindahan terbaik seperti masyarakat kita, banyak bakat terpendam, menunggu waktu untuk bersinar,” ujar Ketua BKMT Muna Barat sekaligus perancang motif, Rhika Purwaningsih Darwin.

Kepiting melengkapi pesan itu, ia mundur untuk maju. Ia diam di Lumpur untuk bertahan. Ia simbol proses alami hidup: sabar, lalu muncul dengan kekuatan baru. Warna coklat yang membalut motif ini adalah tanah Muna Barat sendiri. Stabil, aman, hangat, membumi. Warna yang membuat keindahan tak hanya dilihat tapi dihormati.

Sementara Dhaladha (Jelajah Dinding) ada di setiap rumah. Pembatas ruang yang jadi saksi hidup. Ia memisah, tapi juga melindungi. Ia diam, tapi mendengar semua. Dari dinding itulah motif jelajah lahir.

“Jelajah itu keberanian, berani membuka diri, berani menghadapi tantangan, berani tumbuh. Masyarakat Muna Barat berani secara fisik juga bermetamorfosis secara batin,” ujar Rhika.

Di kain ‘Dhaladha menjelma simfoni. Garisnya tegas, warnanya berani, coraknya kuat. Ketika dirancang menjadi gaun, ia tak lagi sekadar pembatas. Ia jadi pernyataan. Gaun yang menghipnotis mata membuat orang menoleh dua kali.

Dua motif, satu napas. ‘Kamomo Bhe Bungka’ bicara tentang potensi yang sabar menunggu. ‘Dhaladha’ bicara tentang keberanian untuk melangkah. Keduanya adalah doa yang sama agar yang memakainya dilimpahi keberuntungan, dijaga dalam kesatuan dan kerukunan, dituntun pada keberhasilan dan kesuksesan, semua bermuara pada Liwu Mokesa (Kampung yang Keren).

Ini persembahan binaan BKMT Kabupaten Muna Barat. Dari tangan dan pikiran Rhika Purwaningsih Darwin, dua warisan lahir. Bahwa Muna Barat tak kekurangan cerita. Bahwa dari bunga yang mekar dan dinding yang diam, lahir identitas yang siap dihormati dan dikagumi daerah lain.

Sebab kadang, untuk tumbuh hanya perlu dua hal yakni kuncup yang tahu kapan mekar dan dinding yang tahu kapan harus jadi pintu.

Dua motif itu berjalan di panggung Harmoni Sultra. Dipakai kontingen Muna Barat yang melangkah dengan visi Liwu Mokesa yakni Tumbuh, Sehat, Keren. Dewan juri terpukau.

Bukan hanya pada keindahan visual, tapi pada filosofi yang kuat. Bahwa tenun bisa jadi identitas. Bahwa dari bunga dan dinding, lahir narasi tentang masyarakat yang siap makmur dan sejahtera.

Kamomo Bhe Bungka dan Dhaladha membuktikan satu hal bahwa kuncup yang sabar dan dinding yang berani, ketika bersatu, mampu membawa sebuah daerah muda berusia 11 tahun menjadi yang terbaik di Sulawesi Tenggara.

Dari Laworo untuk Sultra, Muna Barat pulang membawa piala serta membawa pesan daerah itu sedang bertumbuh dan dunia harus melihatnya.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *