MAKASSAR, PUBLIKREACTION.ID – Semangat tidak pernah padam meski ruang terbatas. Hal itu yang ditunjukkan Ketua Dekranasda Kabupaten Muna Barat, Rhika Purwaningsih Darwin saat menghadiri peringatan Hari Ulang Tahun Dekranas ke-46 di Makassar, Jumat (10/7/2026).
Tahun ini Kabupaten Muna Barat tidak mendapatkan stand pameran sendiri. Seluruh produk UMKM dan tenunan khas daerah dipajang di stand Dekranasda Sulawesi Tenggara, bersama 17 kabupaten/kota lainnya se-Sultra. Namun keterbatasan itu tidak menyurutkan semangat promosi.
Justru Rhika melihatnya sebagai peluang. Ia sengaja membawa tenunan dengan motif-motif unggulan yang menjadi identitas Muna Barat. Lima motif yang dipamerkan yakni Benteng Tiworo, Bosara, Pucuk Jati, Jagung, dan Enau.
“Tenunan yang kami bawa ini motif unggulan. Ada Benteng Tiworo yang melambangkan kekuatan dan sejarah, Bosara sebagai simbol adat, Pucuk Jati harapan baru, Jagung untuk kesuburan, dan Enau kearifan lokal. Kita berharap tenunan Muna Barat bisa dilirik seperti tahun lalu, dimana desainer populer nasional melirik tenunan kami. Tetapi saya optimis di tahun ini tenunan yang dipajang bisa laku semuanya,” ujar Rhika.
Optimisme itu bukan tanpa alasan. Tahun sebelumnya, tenun Muna Barat berhasil menarik perhatian desainer nasional dan masuk dalam beberapa koleksi fashion. Catatan itu menjadi pelecut semangat bagi para perajin di daerah untuk terus berproduksi dan berinovasi.
Sejalan dengan tema HUT Dekranas ke-46 Cipta Kriya Berkelanjutan Perajin Mendunia, Rhika menegaskan Dekranasda Muna Barat berkomitmen penuh memasarkan hasil karya perajin secara bertahap.
“Saat ini kami tim Dekranasda berupaya agar hasil tenunan perajin kita terus dipasarkan. Kita mulai dari lokal, naik ke nasional, dan nantinya tenunan ini akan dikenal ke pelosok negeri bahkan go internasional. Kita optimis,” pungkasnya.
Kehadiran tenun Muna Barat di panggung nasional ini diharapkan tidak hanya memperkenalkan kekayaan budaya, tetapi juga membuka pintu kerja sama, meningkatkan nilai jual, dan mensejahterakan para perajin. Dari selembar tenun, Muna Barat ingin menunjukkan bahwa budaya dan ekonomi bisa berjalan beriringan.














