Example 728x250

Liwu Mokesa: 300 Langkah Muna Barat Menari di Panggung Budaya Sultra

Maskot jagung, kepiting, dan sapi di pawai budaya Harmoni Sultra. (Publik Reaction/Putri Wulandari)

KENDARI, PUBLIKREACTION.ID – Matahari belum tinggi ketika barisan itu mulai bergerak. 300 putra-putri terbaik Bumi Praja Laworoku melangkah serentak, membelah jalan protokol Kendari dalam balutan tenun khas yang memukau. Hari itu, Sabtu, Muna Barat tak sekadar hadir di pawai budaya Sultra. Mereka membawa pesan.

Di bawah panji Liwu Mokesa, yang berarti “Kampung yang Keren”, kontingen ini tak datang dengan tangan kosong. Di tengah kerumunan, tiga sosok raksasa tampak megah jagung yang menjulang, kepiting yang mengapit, dan sapi yang kokoh. Bukan sekadar maskot. Tiga ikon itu adalah napas Muna Barat.

Jagung melambangkan kesuburan pertanian. Kepiting adalah primadona perikanan. Sapi simbol ketangguhan peternakan. Ini representasi pertumbuhan ekonomi yang tangguh. Wujud kemandirian pangan dan optimisme mengelola kekayaan alam.

Barisan itu bukan hanya tentang simbol. Di belakang maskot, deretan tokoh adat berjalan anggun bersama pemuda-pemudi. Kain tenun Muna Barat yang dikenakan bercerita tentang warisan. Tentang sumber daya manusia yang cerdas, sehat, dan tetap memegang teguh iman serta budaya leluhur.

300 langkah itu punya makna. Ia adalah simbol persatuan masyarakat Muna Barat yang selaras dalam satu visi Tumbuh, Sehat, dan Keren.

“Rangkaian barisan ini merupakan manifestasi dari gerak cepat pembangunan Muna Barat,” kata dari pengeras suara pawai, menggema di antara tepuk tangan penonton.

Sorak-sorai pecah saat kontingen melewati panggung kehormatan. Kamera ponsel terangkat. Anak-anak menunjuk takjub pada maskot kepiting yang capitnya bergerak. Di momen itu, Muna Barat berhasil. Bukan sekadar jadi titik di peta Sulawesi Tenggara, tapi pusat perhatian. Pusat inovasi dan budaya.

“300 orang, satu suara, satu tujuan!” teriak salah satu peserta, disambut sahutan rekan-rekannya. “Dari Laworo untuk Sultra, kami persembahkan semangat persatuan. Muna Barat Tumbuh, Sehat, Keren, LIWU MOKESA!,” ujar peserta pawai.

Saat barisan terakhir meninggalkan arena, jejak mereka tertinggal. Jejak tentang sebuah daerah yang percaya diri menatap masa depan, tanpa melepas akar tradisinya. Muna Barat datang, menari, dan mengingatkan yang keren itu yang setia pada jati diri.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *