Example 728x250

Hadiri Apel Siaga, Bupati Muna Barat Harapkan Stakeholder Mampu Mitigasi Bencana

Apel Siaga simulasi bencana gempa bumi dan tsunami. (Foto: Publik Reaction)

KENDARI, PUBLIKREACTION.ID – Hadiri apel siaga dan simulasi bencana gempa bumi serta tsunami, Bupati Muna Barat mengharapkan seluruh stakeholder mampu memitigasi bencana.

Apel siaga tersebut dilaksanakan di lapangan upacara Kantor Gubernur Sulawesi Tenggara, yang turut dihadiri oleh Gubernur Sulawesi Tenggara, forkopimda, dan seluruh bupati 17 kabupaten Kota Sulawesi Tenggara, Senin (24/11/2025).

Gubernur Sulawesi Tenggara, Mayjen TNI (Purn) Andi Sumangerukka mengatakan kegiatan apel siaga dan simulasi bencana itu buka sekadar kegiatan seremonial, tetapi wujud nyata atas komitmen dalam mewujudkan visi pembangunan daerah yang tertuang pada RPJMD Sulawesi Tenggara yaitu terwujudnya Sulawesi Tenggara yang maju, aman, sejahtera, dan religius.

“Kata Aman adalah semangat dari apel siaga ini, kita tidak bisa membangun kesejahteraan, kita harus menyadari bahwa Sulawesi Tenggara adalah wilayah kepulauan yang dianugerahi kekayaan alam melimpah namun berada pada zona yang memiliki tingkat kerawanan tinggi terhadap jenis bencana alam,” ujarnya.

Berdasarkan dokumen kajian resiko bencana di Sulawesi Tenggara 2022-2026 telah menggarisbawahi secara spesifik kerentanan wilayah terhadap ancaman gempa bumi dan tsunami. Potensi pergerakan lempeng di bawah laut dan sesar aktif di daratan menuntut untuk selalu berada dalam posisi siaga, siap, dan tangguh dalam menghadapi kemungkinan terburuk.

Wilayah Sulawesi Tenggara terletak di persimpangan lempeng yang aktif, artinya sewaktu-waktu potensi bencana gempa dapat terjadi tanpa peringatan dini.

Untuk itu, perlunya simulasi sarana untuk menguji, memverifikasi, dan memperbaiki rencana kontijensi, standar operasional, prosedur, yang melibatkan lintas sektor, dan rantai komando serta sistem komunikasi darurat dari tingkat Provinsi hingga kabupaten/kota.

Sementara itu, Bupati Muna Barat, La Ode Darwin mengatakan terkait arahan Gubernur untuk selalu siap siaga atas bencana gempa bumi dan tsunami, ia mengharapkan seluruh stakeholder mampu memahami pengurangan resiko bencana yang terjadi (mitigasi) baik secara struktural maupun non struktural.

Hal tersebut bertujuan untuk tujuannya meminimalkan korban jiwa serta kerugian harta benda, dengan melakukan tindakan sebelum, saat, dan setelah bencana terjadi.

Untuk itu, seluruh stakeholder diharapkan mampu memahami empat langkah mitigasi bencana Yeng meliputi pemetaan rawan bencana, pemantauan, penyebaran informasi, dan sosialisasi/penyuluhan.

“Langkah-langkah ini bertujuan untuk memahami resiko, mengantisipasi kejadian, dan mengurangi dampak negatif bencana sebelum terjadi,” pungkasnya.

Kemudian mampu memahami tingkat peringatan yang terbagi menjadi tiga kategori yaitu awas, siaga, dan waspada. Dimana awas yaitu peringatan tinggi tsunami diperkirakan lebih dari tiga meter dan warga diminta evakuasi segera.

Siaga merupakan peringatan tinggi tsunami diperkirakan ada dikisaran 0,5 meter hingga tiga meter. Serta waspada merupakan peringatan tinggi tsunami kurang dari 0,5 meter sehingga warga tetap diminta untuk menjauhi pantai atau sungai.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *