Example 728x250

SPBU Bahari di Muna Barat Diduga Bermain Dalam Penyaluran BBM

SPBU Bahari di Desa Suka Damai, Kecamatan Tiworo Tengah, Kabupaten Muna Barat. (Foto: Publik Reaction)

MUNA BARAT, PUBLIK REACTION.ID – Kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi di Muna Barat diduga kuat disebabkan oleh permainan calo di SPBU 76.936.04 Bahari.

Pantauan media menunjukkan sejumlah motor, terutama jenis Suzuki Thunder dan Honda Verza, terpantau bolak-balik mengisi BBM dalam satu hari. Plat nomor yang sama muncul berkali-kali dalam antrean.

Saat ditemui, salah satu pengendara motor Suzuki Thunder berinisial LM secara terbuka mengakui adanya pungutan tambahan yang diminta oleh petugas SPBU.

“Untuk satu tangki motor full, kita bayar lebih Rp5.000. Teman-teman semua juga dimintai begitu sama petugas SPBU,” ungkap LM.

Sejak pukul 07.00 WITA, beberapa kendaraan yang sama terekam kembali mengantre, seperti Honda Verza DT 6021, Suzuki Thunder DT 5167, DT 4835, dan DT 4158. Motor-motor dengan kapasitas tangki besar tersebut tampak difungsikan sebagai alat distribusi ilegal BBM subsidi.

Tak ayal, masyarakat juga kerap mengeluhkan kelangkaan BBM subsidi, terlebih SPBU satu-satunya di daerah tersebut selalu dipenuhi antrean. Namun di balik itu, ada dugaan praktik sistematis yang merugikan masyarakat kecil dan menguntungkan sekelompok pemain.

Diketahui, SPBU 76.936.04 Bahari di Desa Suka Damai, Kecamatan Tiworo Tengah, sejak lama menjadi sumber keluhan warga. SPBU yang diresmikan pada 27 Januari 2020 itu awalnya diharapkan menjadi solusi atas kebutuhan energi masyarakat. Tetapi antrean kendaraan mengular sejak pagi, dan stok Pertalite serta Solar kerap ludes sebelum pukul 14.00 WITA, padahal operasional dijadwalkan hingga pukul 17.00 WITA.

“Datang jam 1 siang saja kadang sudah habis. Ini bukan sekali dua kali, hampir setiap hari,” keluh LI, warga setempat, Jumat (11/4/2025).

Menanggapi hal itu, pengawas SPBU Bahari, Risna, membantah adanya penggunaan tangki rakitan di SPBU tersebut. Ia menyatakan bahwa pihaknya telah lama melarang penggunaan tangki rakitan untuk BBM subsidi. Bahkan akhir-akhir ini, antrean pada BBM jenis Pertamax juga tetap diawasi.

“Kita bisa tahu kapasitas kendaraan rakitan itu, karena kendaraan itu tidak lebih 65 liter kapasitasnya. Selama ini belum ada yang mengisi di atas itu,” ujarnya saat ditemui langsung.

Terkait kelangkaan BBM, Risna menuding pasokan dari depot tidak konsisten. Pasalnya, pihak depot hanya mengirimkan satu tangki per hari, sementara permintaan mencapai dua tangki. Penentuan itu tidak bisa dilakukan secara mandiri, tetapi diatur dari pusat.

Menjelang Idulfitri, terjadi kelangkaan BBM karena peningkatan jumlah kendaraan yang turut memperparah situasi. Terkait dugaan pungli, ia menepis anggapan tersebut dan menyebutnya sebagai bentuk bonus karena pelayanan yang dianggap baik oleh konsumen.

“Kadang orang kasih lebih karena merasa pelayanannya bagus. Tapi di laporan kas perusahaan, semua harus pas. Kalau ada lebih, itu dianggap sebagai bonus dari konsumen, bukan pungli,” pungkasnya.

Penulis: Putri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *