Example 728x250
Opini  

Teduh dan Merangkul, Potret 1 Tahun Darwin-Ali Nahkodai Muna Barat

La Ode Darwin-Ali Basa, Bupati dan Wakil Bupati Muna Barat. (Foto: Ist)

OPINI, PUBLIKREACTION.ID – Tepat 20 Februari 2026, genap setahun pasangan Laode Darwin dan Ali Basa menahkodai Muna Barat. Pasangan yang mengusung semangat Liwu Mokesa ini menunjukkan pola kerja yang konsisten, progresif dalam mengambil kebijakan, namun teduh dalam pendekatan.

Di tengah ekspektasi tinggi masyarakat, Darwin–Ali nampak memilih tidak tergesa-gesa membangun citra dengan gebrakan sensasional. Mereka lebih memilih kerja yang terukur.
Sejumlah kebijakan strategis yang relevan dengan visi-misi dijalankan dengan ritme yang rapi—mulai dari penguatan sektor riil seperti pertanian, peternakan dan perikanan. Mendorong perbaikan konektivitas antarwilayah, hingga pembenahan tata kelola birokrasi.

Eksekusi kebijakan dilakukan dengan cekatan, tetapi tetap mempertimbangkan stabilitas internal pemerintahan. Dalam budaya kerja moderen, hasil kerja memang tidak hanya tentang apa yang dikerjakan, melainkan bagaimana cara mengerjakannya. Begitulah kira-kira prinsip kerja pasangan ini.

Dalam berbagai kesempatan, terlihat Darwin memang kerap menyampaikan pesan sederhana, namun menenangkan kepada jajaran birokrasi: bekerjalah dengan baik, tak perlu dihantui bayang-bayang non job. Kalimat itu berulang kali muncul, baik dalam forum resmi maupun pernyataan di media. Sebuah pesan yang secara psikologis memberi ruang aman bagi aparatur untuk berinovasi tanpa dihantui rasa takut berlebihan.

Gaya ini kontras dengan pola kepemimpinan yang cenderung grasak-grusuk atau reaktif. Darwin–Ali tampak lebih memilih pendekatan merangkul. Kritik tidak serta-merta dibalas dengan resistensi, melainkan dijadikan bahan evaluasi.

Perbedaan pandangan tidak langsung dianggap ancaman, tetapi bagian dari dinamika demokrasi lokal.
Merangkul bukan berarti lemah. Dalam sejumlah keputusan penting, ketegasan tetap terlihat. Hanya saja, ketegasan itu disampaikan tanpa nada konfrontatif. Di sinilah letak keseimbangannya: tegas dalam substansi, teduh dalam komunikasi.

Pendekatan seperti ini berdampak pada stabilitas internal pemerintahan. Minimnya gejolak birokrasi selama setahun terakhir bukanlah kebetulan. Ada pola komunikasi yang dibangun secara sadar dengan mengajak bukan memerintah secara sepihak, serta memotivasi bukan menakut-nakuti.

Di tengah derasnya arus informasi dan dinamika media sosial, gaya merangkul juga menjadi tameng yang efektif. Narasi-narasi miring tidak diladeni dengan kemarahan terbuka. Sebaliknya, pasangan ini lebih sering menjawab dengan kerja nyata dan konsistensi program.

Tentu, setahun bukan waktu yang cukup untuk menuntaskan seluruh pekerjaan rumah daerah. Tantangan fiskal, kebutuhan infrastruktur, hingga peningkatan kualitas SDM masih menjadi agenda besar yang menanti konsistensi jangka panjang.

Namun satu tahun pertama ini setidaknya memberi fondasi penting: stabilitas, kepercayaan, dan suasana kerja yang relatif kondusif.

Kepemimpinan pada akhirnya bukan hanya soal capaian fisik dan angka-angka statistik dan juga tentang rasa aman dalam bekerja, rasa dihargai dalam berpendapat, dan rasa dilibatkan dalam proses pembangunan. Di titik inilah Darwin–Ali memberi warna berbeda dalam perjalanan satu tahun pemerintahannya.

Jika pola merangkul namun tegas ini terus dijaga, bukan mustahil tahun-tahun berikutnya akan lebih produktif. Sebab pembangunan yang berkelanjutan lahir bukan hanya dari kebijakan yang cerdas, tetapi juga dari kepemimpinan yang mampu menyatukan energi kolektif.

Dan selama setahun ini, nampak itulah pesan yang coba ditunjukkan Darwin–Ali kepada Muna Barat: membangun daerah tidak harus dengan gaduh, tetapi bisa dengan merangkul.

(La Iman).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *